Tips Memilih Sensei (profesor) Pembimbing yang Tepat saat Kuliah di Jepang

Topik yang selalu menjadi pembicaraan hangat di antara mahasiswa internasional di Jepang adalah membahas zemi dan sensei masing-masing. Apapun jurusan dan kampusnya, topik inilah salah satu topik ‘penyatu’ tiap mahasiswa/i. Saat S2 dan S3 di Jepang, profesor supervisor (atau biasa dipanggil sensei) adalah sosok yang bertanggung jawab atas pendidikan mahasiswa asing selama masa studi. Tiap sensei biasanya mengkoordinir satu zemi/lab berisi mahasiswa-mahasiswa (jepang dan internasional) yang melakukan penelitian dengan lingkup yang mirip dengan minat beliau. Tiap mahasiswa diwajibkan untuk melaporkan progres penelitian secara berkala. Sensei supervisor ini juga akan membimbing siswa saat melakukan tesis atau disertasi.

Dengan peran yang begitu krusial, penting (banget) bagi mahasiswa untuk dibimbing oleh sensei yang tepat. Sayangnya, untuk bertemu dengan sensei yang suportif beserta kelompok zemi yang enak itu nggak mudah. Dari hasil diskusi dengan teman-teman yang senasib sepenanggungan, “berjodoh” dengan sensei yang tepat ibarat seperti menang lotre.

Btw, apa yang saya tulis di sini adalah kesimpulan dari hasil ngobrol-ngobrol dan sharing antara tiga orang:

  1. A-san, sekolah S2 Desain Psikologi dengan program MEXT G to G. Kuliah di kampus negeri di Chiba
  2. T-san, sekolah S2 & S3 Mikrobiologi dengan program MEXT U to U. Kuliah di kampus engineering negeri di Tokyo
  3. Saya, sekolah S2 Hubungan Internasional dengan program yang sama dengan A-san. Kuliah di kampus swasta di Kyoto.

A-san, T-san, dan saya berkesempatan untuk sekolah ke Jepang dengan dukungan program beasiswa yang sama. Tapi, kami masuk dari jalur yang berbeda, jadi cara kami bertemu dengan sensei pembimbing pun berbeda.

T-san mendapatkan beasiswa MEXT IGPA (program 5 tahun S2 dan S3) melalui jalur rekomendasi universitas atau U to U. Jalur ini adalah jalur kerja sama antar kampus di Jepang dan Indonesia. Enaknya jalur ini, justru universitas di Jepangnya yang secara aktif mencari mahasiswa potensial di Indonesia yang mau sekolah ke Jepang. T-san mendaftar program MEXT dari kantor admisi kampus di Indonesia. Saat mendaftar, dia mendaftar langsung program beasiswa+kampus di Jepang. Jadi dia hanya perlu menulis proposal riset dan mencari sensei dan lab yang ada di dalam kampus tersebut. Kampus dari Jepangnya juga aktif memberikan informasi. Mereka pun membuat semacam talkshow mengenai penjelasan program dan guru-gurunya. Intinya, dengan MEXT University Recommendation ini, T-san sudah tahu mau melanjutkan pendidikan di universitas yang mana, tinggal mencocokkan tema risetnya dengan minat sensei di universitas tersebut.

Kalau A-san dan saya masuk ke program MEXT melalui jalur Research Student Government Recommendation, alias jalur kedutaan besar Jepang di Indonesia. Dibandingkan jalur U to U, jalur G to G ini prosesnya lebih panjang dan berliku. Di awal seleksi, kami diminta untuk membuat proposal riset tanpa perlu mencantumkan universitas yang hendak dipilih. Nah, setelah lulus tes tertulis bahasa, biasanya para calon kandidat akan mulai aktif mencari dan menghubungi profesor incaran masing-masing. Berbeda dengan T-san yang sudah tahu akan kuliah di kampus mana, A-san dan saya bahkan belum tahu akan diterima di kampus yang mana. Saat mencari-cari sensei pembimbing, kami kebanyakan mencari informasi melalui website dan tanya-tanya ke kenalan yang pernah kuliah di Jepang juga. Setelah itu, kami mengirimkan satu per satu e-mail ke sensei yang bidang risetnya mirip, berharap untuk segera dibalas. Btw, A-san dan saya saat itu background dan lingkungannya nggak ada jepang-jepangnya. Kenalan kami dengan orang yang pernah kuliah di Jepang pun sedikit. Intinya, kebalikan dari program University Recommendation, dengan program G to G ini kandidat penerima beasiswa akan mencari sensei berbarengan dengan mencari universitas yang sesuai.

Kami bertiga belajar di kota yang berbeda, dengan bidang yang juga berbeda: semi-sains, sains, dan sosial. Tapi setelah ngobrol-ngobrol panjang, kami sepakat bahwa sensei dan zemi yang tepat berpengaruh besar ke kesempatan dan kualitas riset selama masa studi (kondisi mental juga, eh). Selama dua tahun atau lebih waktu studi di Jepang, apakah kamu akan menjadi mahasiswa yang rajin conference dan mempresentasikan hasil riset? atau hanya melakukan riset ala kadarnya? Salah satu faktor penentunya adalah kualitas dan gaya mengayomi sensei ini.

Berikut adalah hal yang menurut kami penting untuk dipertimbangkan dan dilakukan sebelum memilih sensei pembimbing di universitas di Jepang.

  1. Cari dan baca paper yang pernah di-publish oleh sensei

Mau bekerja dengan bimbingan seseorang tentu perlu tahu minat dan pola pikir beliau. Rajin-rajinlah membaca paper yang di-publish oleh sensei. Dari sini, kamu bisa tahu minat dan sudut pandang yang sering beliau ambil. Hal ini akan berpengaruh banyak sama proses riset kamu nantinya, lho!

Dari pengalaman T-san, dia akhirnya harus merombak ulang judul penelitian karena ternyata apa yang dia ingin lakukan dan preferensi sensei berbeda. Kalau untuk A-san dan saya, kebetulan sensei kami orangnya selow banget. Kami dibebaskan untuk memilih tema apa saja asal masih sesuai dengan fakultas kampus dan bidang yang si sensei pahami.

Sebelum saya memilih untuk belajar di bawah bimbingan sensei pilihan, saya juga sempat membaca dua paper yang ditulis oleh sensei. Saat memulai program, dua paper tersebut memang mewakili minat dan penelitian sensei tersebut. Jadi lebih nyambung saat diskusi, dan beliau pun mungkin lebih nyaman membimbing saya yang memang subjek penelitiannya nyambung dengan background beliau.

2. Cari tahu umur dan rencana sensei

Jujur, ini adalah hal yang sama sekali tidak kepikiran oleh kami bertiga saat sedang mencari sensei pembimbing. Menurut A-san, umur sensei ternyata sangat berpengaruh ke cara beliau meng-approach muridnya. Kebetulan, saat A-san mau masuk kampus, senseinya ini ternyata sudah mau pensiun. Jadi A-san pun tidak dituntut untuk melakukan riset yang outstanding karena si sensei-nya juga sebentar lagi sudah tidak mengajar di kampus itu. Selama A-san kuliah 3 tahun pun jarang sekali ada workshop atau ajakan conference dari lab. Saat ada kelas zemi, approach-nya lebih satu arah dan jarang diskusi. Setelah A-san lulus bersamaan dengan waktu pensiun-nya si sensei, lab-nya ditutup karena tidak ada dosen yang meneruskan.

Lain halnya kalau senseinya masih berusia cukup muda dan aktif. Biasanya, beliau akan menuntut muridnya untuk membuat riset yang bagus karena dengan mencetak lulusan top otomatis akan “mengangkat” nama beliau secara akademis. Lalu, biasanya dosen-dosen muda juga rajin mengajak murid-muridnya untuk ikut group conference atau workshop. Seru banget! Sensei saya dulu termasuk yang lumayan rajin untuk mengadakan aktivitas macam ini. Beliau mengadakan workshop di kampus, mendaftarkan murid-muridnya untuk ikut dalam conference akademis, bahkan mau membantu saya saat ingin mendaftarkan diri ke conference lain secara mandiri. Sayangnya, semua conference tersebut batal karena pandemi :”)

Kalau memungkinkan, cari tahu juga mengenai rencana sensei selama waktu studi kamu. Saat memulai program studi, saya baru tahu kalau dosen di Jepang punya hak “sabbatical”, yaitu cuti setahun untuk memperdalam risetnya sendiri atau menjadi dosen tamu di luar negeri. Saat saya baru saja masuk kampus, di pertemuan ke-2 sensei mengabarkan kalau ia akan mengambil cuti sabbatical di tahun selanjutnya (tahun terakhir saya di kampus) Tentunya shock sekali ya haha. Untungnya sensei ini baik dan mencarikan sensei pengganti, jadi proses transisinya cukup smooth.

3. Cari kenalan yang pernah belajar di bawah bimbingan sensei tersebut

Kultur higher studies di Jepang sangat unik dan sepertinya berbeda dari negara lain. Di sini, ada yang namanya grup lab atau zemi, yaitu kumpulan mahasiswa-mahasiswa yang dibimbing oleh sensei yang sama. Biasanya, murid-muridnya ini melakukan riset dengan tema yang masih “nyambung” (tentu karena dibimbing oleh sensei yang sama haha). Nah, tiap lab dan zemi ini memiliki kultur yang berbeda-beda.

Lab adalah sebutan yang dipakai oleh jurusan sains, karena ya mereka kebanyakan melakukan eksperimen di lab. Lab jurusan sains terkenal lebih strict, lho. Labnya T-san di bidang mikrobiologi mengharuskan semua muridnya untuk selalu ada di lab SETIAP weekdays dari jam 10.00–17.00 (kecuali sedang ada kuliah). Kalau nggak stand by, akan dicariin. Wow sudah seperti ngantor ya. Bahkan, ada juga saat-saat dia harus ke lab saat weekend. Ya tidak ada pilihan juga ya, karena penelitian di lab hasilnya tidak bisa diperkirakan.

Hal ini berbeda sama zemi (saduran dari kata seminar) pengetahuan sosial. Biasanya kami hanya berkumpul seminggu sekali untuk mendiskusikan perkembangan riset dari masing-masing siswa. Atau, biasanya sensei juga akan mempresentasikan mengenai studi yang sedang ia lakukan.

4. Perhatikan kualitas kampus tempat sensei mengajar

Bukan hanya kualifikasi sensei, perhatikan juga kualitas dan jurusan di kampus tujuan. Kampus yang suportif ke mahasiswa asing dan terletak di kota yang strategis akan sangat mempermudah hidup dan memaksimalkan pengalaman kuliah di Jepang kamu! Kampus yang terbiasa meng-handle mahasiswa asing biasanya rajin mengirimkan pemberitahuan dalam bahasa inggris, sering bikin acara-acara exchange atau tur ke tempat-tempat wisata. Di kampus saya di Kyoto dulu, bahkan kampusnya juga bekerja sama dengan pemerintah lokal untuk membagikan kartu wisata khusus supaya mahasiswa asing bisa masuk ke tempat wisata secara gratis. Hore!

Kampus yang berkualitas juga akan rajin memberikan bantuan finansial untuk penelitian, entah itu untuk mengikuti conference atau riset lapangan. Selama studi S2 dan S3 adalah kesempatan terbaik kamu untuk mengikuti conference di bidang yang sedang diteliti. (sebelum COVID) kegiatan conference biasanya dilakukan di luar negeri atau luar kota. Seru banget bisa menambah wawasan sambil jalan-jalan. Apalagi kalau biaya perjalanannya di-cover dari universitas 🙂

Begitulah kira-kira empat hal yang bisa diusahakan tiap orang sebelum memilih sensei yang tepat saat kuliah ke Jepang. Kalau belum pernah bertemu atau bekerja bersama dengan sensei pilihan, deg-degan ya memikirkan apakah cocok atau tidak bekerja sama dengan beliau. Dengan mengikuti beberapa tips di atas, semoga kamu bisa mengenal lebih dalam sosok sensei sebelum akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan beliau dalam jangka waktu yang panjang. Good luck!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s